Kadang
kala kita dikejutkan oleh pertanyaan anak kecil yang ternyata bermakna
mendalam: “Dari mana orang datang? Bagaimana yah kalau sapi bisa
ngomong?” Atau pernyataan yang mengejutkan: “Merahnya saya beda
dengannya merahnya kamu.”Pertanyaan dan pernyataan anak dapat dilihat
dari sudut pandang filsafati dan menunjukkan bahwa mereka punya sebuah
rasa ingin tahu dan pola bernalar yang telah cukup rumit untuk berpikir
secara mendalam.
Orang tua atau guru TK sering berdongeng pada
anak-anak mengenai ajaran kearifan. Langkah ini merupakan pengajaran
filsafat secara tidak langsung. Walau demikian, filsafat semestinya
diajarkan secara langsung dan sistematis. Dengan cara ini, kita bukan
hanya mengajak anak memahami cerita namun juga berpikir mengenai makna
yang tersembunyi di balik cerita. Kenapa kita hanya harus mengambil
sudut pandang kancil dalam cerita kancil dan buaya misalnya. Kenapa
tidak dari sudut pandang buaya? Faktanya realita orang dewasa jauh dari
eksistensi protagonis dan antagonis. Dengan mengajak anak memahami
kerumitan berbagai perspektif dan memahami makna yang lebih mendalam,
kita telah mengajarkan kearifan yang lebih bernilai. Lebih dari sekedar
hitam putihnya dunia.
Filsafat adalah ilmu untuk mencapai
kearifan. Seseorang berfilsafat dengan berpikir mendalam, secara
sistematis, menimbang berbagai sudut pandang dan mencoba mencapai
hakikat sesuatu. Dari pencapaian hakikat ini, maka tercipta kearifan
dimana ia mampu memahami sudut pandang orang lain, mengerti akar
permasalahannya dan menjadi arif dalam menghadapinya. Dari pengertian
ini, jelas terlihat bahwa situasi negara kita belakangan memang
disebabkan kurangnya kearifan. Tindakan kekerasan yang mengakibatkan
korban jiwa, bom bunuh diri, penyiksaan,pembodohan, korupsi, adalah
kejadian-kejadian yang tidak menunjukkan keinginan untuk melihat dari
sudut pandang lain dan mencoba memaksakan sudut pandang sendiri.
Pemerintah
berpikir bahwa Pancasila, sebagai landasan filosofis bangsa memang
memberikan pemahaman filsafat bagi anak. Dari sinilah muncul mata
pelajaran Pendidikan Moral Pancasila di masa orde baru yang kemudian
berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Walau begitu,
mata pelajaran ini sungguh menyimpang dari makna filsafat itu sendiri.
Bukannya mengajarkan bagaimana berpikir filsafati, anak diajarkan
melakukan ritual-ritual moral tanpa harus mempertanyakan. Akibatnya
pelajaran Pancasila lebih mirip pelajaran hukum dimana anak harus
menghapal butir-butir, mana yang baik dan mana yang buruk. Sebaliknya,
pendidikan filsafat mengajarkan anak untuk berpikir sendiri dan menilai
sendiri mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada penilaian dari
guru, yang dipentingkan adalah agar anak dapat berpikir mendalam dan
menjadi arif. Warga negara yang arif lebih baik daripada warga negara
yang patuh, karena para pemimpin adalah manusia, yang juga bisa salah.
Dalam
esai ini akan diuraikan mengenai sejumlah miskonsepsi terhadap
filsafat, bagaimana perkembangan filsafat di negara kita, desain mata
pelajaran dan teknik pengajaran filsafat. Diharapkan dengan munculnya
wacana pendidikan filsafat dan perwujudannya di negara kita, kita dapat
memperoleh generasi bijaksana yang memperkokoh persatuan dan kesatuan
bangsa, sebuah cita-cita mulia para perintis negara ini.
MISKONSEPSI MENGENAI FILSAFAT
Terdapat
sejumlah miskonsepsi mengenai filsafat baik sebagai ilmu yang
dipelajari maupun yang diajarkan. Miskonsepsi tersebut antara lain :
1. Membahas filsafat mengalihkan perhatian dari apa yang lebih penting bagi pendidikan dan masa depanSebagai ilmu yang mempelajari segalanya, filsafat membantu memahami pelajaran lain dengan lebih baik. Kemampuan berpikir kreatif menjadi lebih baik, kosakata menjadi lebih luas dan mempermudah pemahaman disiplin ilmu lain karena terlibat kegiatan membaca, menulis dan aritmatik. Anak berbakat juga mengalami peningkatan yang cepat begitupula yang mengalami kesulitan belajar.2. Filsafat hanya semata pendapat sehingga pandangan manapun sama baik/buruknyaPendapat dan filsafat adalah dua hal yang berbeda. Pendapat adalah berbasis keyakinan. Michael LaBossiere (2007) mengatakan bahwa pendapat dicirikan bahwa “Saya percaya X.” Miskonsepsi ini berdasarkan pada dua asumsi : (1) filsafat semata pendapat, (2) semua pendapat sama baiknya. Memang benar filsafat diawali dengan pendapat, namun ia melibatkan penalaran dan pemeriksaan posisinya. Akibatnya, filsafat kemudian didukung oleh fakta dan alasan. Dengan kata lain, filsafat adalah pendapat yang didasari bukti dan penalaran yang logis. Asumsi kedua tentang semua pendapat sama baiknya tidak konsisten secara logis. Jika benar, maka pendapat yang mengatakan bahwa “tidak semua pendapat sama baiknya” juga sama baiknya, karena ia pendapat. Tapi pendapat yang sama baiknya itu mengatakan kalau “tidak semua pendapat sama baiknya.” Kontradiksi sehingga harus ditolak.3. Filsafat bertentangan dengan agamaFilsafat dan agama adalah dua dimensi dalam memahami dunia. Memang benar terdapat basis berbeda dari kedua disiplin: filsafat berbasis kritis, sementara agama berbasis keyakinan. Namun keduanya tidak mesti bertentangan. Terdapat titik temu dimana agama dan filsafat saling mendukung, sama halnya antara agama dan sains, atau agama dan ideologi Pancasila. Rijal Mustansyir mengatakan ada lima manfaat filsafat bagi agama: (1) mengajarkan cara berpikir kritis sehingga tidak terjebak taqlid, (2) memanfaatkan akal sebagai amanat dari Tuhan, (3) memanfaatkan ketiga bagian akal : ma’rifatullah, tha’atullah dan shobru an-ma’siyatullah, (4) membantu dalam menghadapi kehidupan yang terus berkembang, dan (5) menjadi pembuka wawasan berpikir menuju penghayatan.
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN FILSAFAT
Karena
filsafat pada dasarnya proses berpikir, maka hal ini sebenarnya dapat
dilakukan siapa saja, termasuk di Indonesia. Tidak heran jika bahkan di
suku terpencil kita menemukan kearifan lokal yang diistilahkan sebagai
makna filsafati dibalik berbagai ritualnya, seperti upacara adat,
pantun, etika, kosmogoni, dan penafsiran gejala alam. M Nasroen (1967)
menyebutnya filsafat Indonesia. Indonesia kaya akan kearifan lokal
karena keanekaragaman suku bangsa yang hidup berkembang di dalamnya.
Salah satu penyebab lunturnya kearifan ini adalah pengaruh budaya luar,
yang tidak harus dari barat, dan adanya penilaian singkat kalau
ritual-ritual tertentu tidak bermakna atau tidak relevan dengan dunia
modern.
Memang bisa saja sejumlah simbol yang mengandung makna
filsafati pada kearifan lokal dipandang tidak efisien dengan pacu dunia
masa kini. Karenanya kita harus memformulasikan pendekatan yang lebih
kekinian pula. Pendekatan ini adalah pendekatan berbasis pendidikan
formal yang mendidik langsung ke intisarinya, yaitu filsafat itu
sendiri.
Walau secara tradisional, filsafat Indonesia telah
terbentuk dan bermakna kearifan lokal yang tersebar di seluruh
masyarakat, pengajaran filsafat secara sistematis masih sangat terbatas.
Di Pulau Jawa hanya terdapat di beberapa Perguruan tinggi saja yang
memiliki jurusan filsafat seperti UI, UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan
Gunung Djati, UIN Sunan Kalijaga, UGM, UNPAR, STF Driyarkara dan
beberapa sekolah tinggi teologi. Dibandingkan jumlah Universitas yang
ada di Jawa, jumlah ini sangat sedikit. Ini sebabnya Pemerintah
memberikan beasiswa Bidik Misi yang ditujukan agar minat pada filsafat,
astronomi dan bidang keilmuan yang miskin peminat menjadi meningkat.
Gagasan
pengajaran filsafat pada anak sebenarnya telah ada semenjak tahun 1972
di Amerika Serikat. Gerakan ini dipelopori oleh Filsuf Matthew Lipman
dengan nama Philosophy for Children (P4C). Sekarang lebih dari 50 negara
mengajarkan filsafat di tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Program master
untuk Filsafat untuk Anak telah digulirkan di sejumlah negara seperti
AS, Nigeria, Australia, Kanada, Meksiko dan Brazil, sementara program
master yang lebih khusus ditujukan mengajarkan filsafat pada siswa TK
dan SD telah dikembangkan di Inggris, Australia, Korea, Brazil, Jerman,
Perancis dan Belanda. Program Doktor pendidikan filsafat telah pula
didirikan di Ibero-Americana University, Meksiko dan Montclair State
University, AS. Perlu dilihat kalau negara Nigeria ternyata telah
memiliki program ini. Nigeria secara karakteristik budaya mirip dengan
Indonesia karena multi etnis dan multi agama. Sejumlah konflik etnis dan
agama telah terjadi terus menerus selama sejarah negara ini. Nigeria
patut dicontoh karena dengan mengajarkan filsafat pada anak, maka ruang
toleransi menjadi terbuka dan cenderung meredam konflik SARA.
Jika
Indonesia masih belum berangkat dari pengajaran filsafat di Perguruan
Tinggi yang masih minim, maka sebaiknya Pemerintah memperluas program
pendidikan. Dengan cara ini, kemajuan di bidang pendidikan nasional akan
terbantu.
MATA PELAJARAN FILSAFAT UNTUK ANAK
Dengan adanya
kurikulum yang penuh dengan mata pelajaran sekarang, memang dapat
dipertanyakan mengapa harus pelajaran filsafat diwacanakan. Para guru
dapat berargumen kalau keberadaan filsafat menambah sibuk dan bingungnya
anak. Sifatnya yang kritis bisa jadi justru berimbas negatif pada mata
pelajaran lain, seperti meragukan materi pelajaran lainnya. Di sisi
lain, para guru tidak terbiasa dengan filsafat apalagi mengajarkannya.
Sejumlah
keberatan di atas memang beralasan. Walau begitu, seperti telah
ditunjukkan dalam berbagai hasil studi, telah terbukti ilmiah bahwa
pendidikan filsafat berpengaruh positif. Efektivitas pengajaran filsafat
pada anak di negara lain juga telah terbukti lewat berbagai studi.
Laporan Ofsted tahun 2001 menunjukkan bagaimana siwa belajar
mendengarkan, mempertimbangkan dan merespon secara dewasa terhadap
gagasan orang lain. Kesimpulan penelitian ini adalah pendidikan filsafat
jelas berpengaruh positif bagi kinerja siswa untuk memberinya
kepercayaan diri untuk berbicara dan membahas gagasannya.
Menurut
Michael Hand, tinjauan sistematik pada tahun 2004 menyimpulkan kalau
anak dapat memperoleh manfaat terukur baik akademis maupun sosial dari
program pendidikan filsafat.
Tahun 2007, survey di Skotlandia pada
105 anak berusia 10 tahun yang mengikuti pelajaran filsafat menunjukkan
peningkatan kemampuan verbal, numerik dan spatial setelah belajar
selama 16 bulan, dibandingkan anak yang tidak diajarkan filsafat.
Rekaman
sejarah juga menunjukkan kalau kemampuan berpikir yang diasah oleh
filsafat membantu mencapai kesuksesan dalam hidup, seperti pada kasus
Bill Clinton, Woody Allen, Paus Yohanes Paulus II dan Gene Siskel
(Zambrello, 2006).
TEKNIK-TEKNIK MENGAJARKAN FILSAFAT PADA ANAK
Teknik
pengajaran filsafat biasanya diawali dengan membaca. Buku yang
digunakan sebagai bacaan untuk anak dalam pelajaran filsafat bukanlah
buku yang langsung membahas filsafat, namun kurang lebih sama dengan
buku dongeng anak-anak. Peran filsafat disini muncul ketika diskusi
dikembangkan oleh guru. Ilustrasi dapat ditunjukkan dalam kasus
Christina Runquist (Goodnought, 2010):
Ketika pelajaran filsafat,
para siswa membaca dongeng “Giving Tree” tentang sebuah pohon yang
menyerahkan naungan, buah, cabang dan akhirnya pokoknya kepada seorang
anak yang menjadi temannya tapi sang anak tidak pernah memberi apapun
pada sang pohon. Setelah membaca buku, Runquist bertanya pada siswa
“Bagaimana pendapat kamu? Apakah menurutmu sang anak laki-laki itu
egois? Mengapa? Bagaimana dengan pohonnya? Apakah pohonnya juga egois?
Mengapa pohon tidak senang ketika memberi pokoknya kepada sang anak?”
dst.
Kisah-kisah untuk bahan bacaan filsafat memang diseleksi
secara khusus agar lebih sesuai dengan materi yang ingin diajarkan dalam
pelajaran filsafat untuk anak. Menurut Wartenberg (2009), pelajaran
Filsafat pada anak sekurangnya harus mengajarkan : etika, filsafat
sosial politik, metafisika, filsafat pikiran, filsafat lingkungan,
epistemologi, filsafat bahasa dan estetika. Cabang-cabang filsafat ini
masing-masing memiliki buku standar yang dapat digunakan sesuai
rekomendasi Wartenberg. The Giving Tree merupakan kisah yang sesuai
untuk filsafat lingkungan. Dalam bukunya, Big Ideas for Little Kids,
masing-masing cabang filsafat memiliki rekomendasi kisah untuk
diceritakan. Dalam dongeng Indonesia pun hal yang sama dapat dilakukan.
Kisah Sangkuriang misalnya dapat digunakan untuk mengajarkan etika.
Alternatif
selain membaca tentu ada karena tidak semua siswa senang membaca.
Alternatif metode ini tergantung pada kreativitas dan pertimbangan
mendalam sang guru. Sebagai contoh, Shapiro (2000) mengajukan tiga
gagasan interaktif: (1) Permainan tipe Dilema Tawanan untuk mengajarkan
nilai kerjasama, (2) Permainan model karakter untuk mengajarkan makna
keadilan, dan (3) Latihan eksplorasi skenario menggunakan berbagai teori
moral untuk mengajarkan penerapan prinsip moral.
Hal penting yang
harus diingat saat mengajar filsafat adalah mendukung siswa membangun
sendiri gagasannya. Tunjukkan bagaimana ucapan mereka membuat anda
berpikir dan dukunglah siswa untuk berdiskusi satu sama lain, bukan
kepada anda. Sementara itu, hal yang tidak boleh dilakukan guru filsafat
adalah memaksakan pandangannya sendiri, menunjukkan ketidaknyamanan
dengan suasana senyap (berpikir memerlukan waktu), memberi jawaban pasti
pada pertanyaan filsafati, mengizinkan pembahasan panjang pada isu yang
tidak penting, memonopoli diskusi, memecahkan perdebatan di antara
siswa, dan menunjukkan kepada siswa kalau kita sangat puas terhadap satu
jawaban tertentu.
Dr. Thomas Jackson menyarankan istilah WRITEC
untuk mengarahkan siswa berpikir filsafat di kelas.
Istilah WRITEC
merupakan singkatan dari What do you mean? Reasons, Assumptions,
Inferences, Truth, Examples (Evidence), Counter-examples (Perjelas
maksudnya, alasannya, asumsinya, logikanya, kebenarannya, buktinya dan
sanggahannya).
Wartenberg menyarankan sejumlah kegiatan follow up
setelah pengajaran filsafat inti yang diberikan dalam bukunya. Dalam
contoh The Giving Tree, kegiatan follow up yang dapat diberikan adalah
meminta siswa menggambar dua hal yang terlihat berbeda namun sebenarnya
sama. Hal ini menunjukkan kalau pohon dan anak terlihat berbeda, tapi
setelah dikaji mendalam lewat diskusi, sifat mereka sesungguhnya sama.
KESIMPULAN
Filsafat
bukan hanya untuk orang tua, ia berlaku pada semua manusia. Anak sejak
usia 3 tahun telah memiliki kapasitas yang sederhana dalam proses
berpikirnya, sehingga memungkinkan pengajaran filsafat secara dasar.
Dengan mengajarkan filsafat pada anak kecil, akan diperoleh generasi
yang lebih bijak dan toleran dalam menghadapi keanekaragaman budaya
dalam masyarakat. Pada gilirannya, hal ini dapat menciptakan
keharmonisan di masyarakat seperti ditunjukkan masyarakat kita di
desa-desa yang penuh kearifan lokal. Pendidikan filsafat pada anak TK
dan SD telah terbukti efektif di banyak negara, tidak ada salahnya bila
Indonesia juga ikut serta. Telah pula ditunjukkan sejumlah contoh
pengajaran yang diharapkan dapat menggugah para praktisi pendidikan
untuk lebih giat dalam mengembangkan filsafat di sekolah.
*) Timur Langit bersembunyi di punggung nama Widia Febriana, seorang mahasiswi aktif Aqidah Filsafat UIN Bandung angkatan 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar