Selasa, 06 September 2011

Filsafat untuk anak, PENTIIINGGG

oleh Timur Langit*) pada 30 Agustus 2011 jam 22:19
Kadang kala kita dikejutkan oleh pertanyaan anak kecil yang ternyata bermakna mendalam: “Dari mana orang datang? Bagaimana yah kalau sapi bisa ngomong?” Atau pernyataan yang mengejutkan: “Merahnya saya beda dengannya merahnya kamu.”Pertanyaan dan pernyataan anak dapat dilihat dari sudut pandang filsafati dan menunjukkan bahwa mereka punya sebuah rasa ingin tahu dan pola bernalar yang telah cukup rumit untuk berpikir secara mendalam.


Orang tua atau guru TK sering berdongeng pada anak-anak mengenai ajaran kearifan. Langkah ini merupakan pengajaran filsafat secara tidak langsung. Walau demikian, filsafat semestinya diajarkan secara langsung dan sistematis. Dengan cara ini, kita bukan hanya mengajak anak memahami cerita namun juga berpikir mengenai makna yang tersembunyi di balik cerita. Kenapa kita hanya harus mengambil sudut pandang kancil dalam cerita kancil dan buaya misalnya. Kenapa tidak dari sudut pandang buaya? Faktanya realita orang dewasa jauh dari eksistensi protagonis dan antagonis. Dengan mengajak anak memahami kerumitan berbagai perspektif dan memahami makna yang lebih mendalam, kita telah mengajarkan kearifan yang lebih bernilai. Lebih dari sekedar hitam putihnya dunia.

Filsafat adalah ilmu untuk mencapai kearifan. Seseorang berfilsafat dengan berpikir mendalam, secara sistematis, menimbang berbagai sudut pandang dan mencoba mencapai hakikat sesuatu. Dari pencapaian hakikat ini, maka tercipta kearifan dimana ia mampu memahami sudut pandang orang lain, mengerti akar permasalahannya dan menjadi arif dalam menghadapinya. Dari pengertian ini,  jelas terlihat bahwa situasi negara kita belakangan memang disebabkan kurangnya kearifan. Tindakan kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa, bom bunuh diri, penyiksaan,pembodohan, korupsi,  adalah kejadian-kejadian yang tidak menunjukkan keinginan untuk melihat dari sudut pandang lain dan mencoba memaksakan sudut pandang sendiri.

Pemerintah berpikir bahwa Pancasila, sebagai landasan filosofis bangsa memang memberikan pemahaman filsafat bagi anak. Dari sinilah muncul mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila di masa orde baru yang kemudian berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Walau begitu, mata pelajaran ini sungguh menyimpang dari makna filsafat itu sendiri. Bukannya mengajarkan bagaimana berpikir filsafati, anak diajarkan melakukan ritual-ritual moral tanpa harus mempertanyakan. Akibatnya pelajaran Pancasila lebih mirip pelajaran hukum dimana anak harus menghapal butir-butir, mana yang baik dan mana yang buruk. Sebaliknya, pendidikan filsafat mengajarkan anak untuk berpikir sendiri dan menilai sendiri mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada penilaian dari guru, yang dipentingkan adalah agar anak dapat berpikir mendalam dan menjadi arif. Warga negara yang arif lebih baik daripada warga negara yang patuh, karena para pemimpin adalah manusia, yang juga bisa salah.

Dalam esai ini akan diuraikan mengenai sejumlah miskonsepsi terhadap filsafat, bagaimana perkembangan filsafat di negara kita, desain mata pelajaran dan teknik pengajaran filsafat. Diharapkan dengan munculnya wacana pendidikan filsafat dan perwujudannya di negara kita, kita dapat memperoleh generasi bijaksana yang memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, sebuah cita-cita mulia para perintis negara ini.

MISKONSEPSI MENGENAI FILSAFAT

Terdapat sejumlah miskonsepsi mengenai filsafat baik sebagai ilmu yang dipelajari maupun yang diajarkan. Miskonsepsi tersebut antara lain :

1. Membahas filsafat  mengalihkan perhatian dari apa yang lebih penting bagi pendidikan dan masa depan
Sebagai ilmu yang mempelajari segalanya, filsafat membantu memahami pelajaran lain dengan lebih baik. Kemampuan berpikir kreatif menjadi lebih baik, kosakata menjadi lebih luas dan mempermudah pemahaman disiplin ilmu lain karena terlibat kegiatan membaca, menulis dan aritmatik. Anak berbakat juga mengalami peningkatan yang cepat begitupula yang mengalami kesulitan belajar.

2. Filsafat hanya semata pendapat sehingga pandangan manapun sama baik/buruknya
Pendapat dan filsafat adalah dua hal yang berbeda. Pendapat adalah berbasis keyakinan. Michael LaBossiere (2007) mengatakan bahwa pendapat dicirikan bahwa “Saya percaya X.” Miskonsepsi ini berdasarkan pada dua asumsi : (1) filsafat semata pendapat, (2) semua pendapat sama baiknya. Memang benar filsafat diawali dengan pendapat, namun ia melibatkan penalaran dan pemeriksaan posisinya. Akibatnya, filsafat kemudian didukung oleh fakta dan alasan. Dengan kata lain, filsafat adalah pendapat yang didasari bukti dan penalaran yang logis. Asumsi kedua tentang semua pendapat sama baiknya tidak konsisten secara logis. Jika benar, maka pendapat yang mengatakan bahwa “tidak semua pendapat sama baiknya” juga sama baiknya, karena ia pendapat. Tapi pendapat yang sama baiknya itu mengatakan kalau “tidak semua pendapat sama baiknya.” Kontradiksi sehingga harus ditolak.

3. Filsafat bertentangan dengan agama
Filsafat dan agama adalah dua dimensi dalam memahami dunia. Memang benar terdapat basis berbeda dari kedua disiplin: filsafat berbasis kritis, sementara agama berbasis keyakinan. Namun keduanya tidak mesti bertentangan. Terdapat titik temu dimana agama dan filsafat saling mendukung, sama halnya antara agama dan sains, atau agama dan ideologi Pancasila. Rijal Mustansyir mengatakan ada lima manfaat filsafat bagi agama: (1) mengajarkan cara berpikir kritis sehingga tidak terjebak taqlid, (2) memanfaatkan akal sebagai amanat dari Tuhan, (3) memanfaatkan ketiga bagian akal : ma’rifatullah, tha’atullah dan shobru an-ma’siyatullah, (4) membantu dalam menghadapi kehidupan yang terus berkembang, dan (5) menjadi pembuka wawasan berpikir menuju penghayatan.

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN FILSAFAT

Karena filsafat pada dasarnya proses berpikir, maka hal ini sebenarnya dapat dilakukan siapa saja, termasuk di Indonesia. Tidak heran jika bahkan di suku terpencil kita menemukan kearifan lokal yang diistilahkan sebagai makna filsafati dibalik berbagai ritualnya, seperti upacara adat, pantun, etika, kosmogoni, dan penafsiran gejala alam. M Nasroen (1967) menyebutnya filsafat Indonesia. Indonesia kaya akan kearifan lokal karena keanekaragaman suku bangsa yang hidup berkembang di dalamnya. Salah satu penyebab lunturnya kearifan ini adalah pengaruh budaya luar, yang tidak harus dari barat, dan adanya penilaian singkat kalau ritual-ritual tertentu tidak bermakna atau tidak relevan dengan dunia modern.

Memang bisa saja sejumlah simbol yang mengandung makna filsafati pada kearifan lokal dipandang tidak efisien dengan pacu dunia masa kini. Karenanya kita harus memformulasikan pendekatan yang lebih kekinian pula. Pendekatan ini adalah pendekatan berbasis pendidikan formal yang mendidik langsung ke intisarinya, yaitu filsafat itu sendiri.

Walau secara tradisional, filsafat Indonesia telah terbentuk dan bermakna kearifan lokal yang tersebar di seluruh masyarakat, pengajaran filsafat secara sistematis masih sangat terbatas. Di Pulau Jawa hanya terdapat di beberapa Perguruan tinggi saja yang memiliki jurusan filsafat seperti UI, UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Gunung Djati, UIN Sunan Kalijaga, UGM, UNPAR, STF Driyarkara dan beberapa sekolah tinggi teologi. Dibandingkan jumlah Universitas yang ada di Jawa, jumlah ini sangat sedikit. Ini sebabnya Pemerintah memberikan beasiswa Bidik Misi yang ditujukan agar minat pada filsafat, astronomi dan bidang keilmuan yang miskin peminat menjadi meningkat.

Gagasan pengajaran filsafat pada anak sebenarnya telah ada semenjak tahun 1972 di Amerika Serikat. Gerakan ini dipelopori oleh Filsuf Matthew Lipman dengan nama Philosophy for Children (P4C). Sekarang lebih dari 50 negara mengajarkan filsafat di tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Program master untuk Filsafat untuk Anak telah digulirkan di sejumlah negara seperti AS, Nigeria, Australia, Kanada, Meksiko dan Brazil, sementara program master yang lebih khusus ditujukan mengajarkan filsafat pada siswa TK dan SD telah dikembangkan di Inggris, Australia, Korea, Brazil, Jerman, Perancis dan Belanda. Program Doktor pendidikan filsafat telah pula didirikan di Ibero-Americana University, Meksiko dan Montclair State University, AS. Perlu dilihat kalau negara Nigeria ternyata telah memiliki program ini. Nigeria secara karakteristik budaya mirip dengan Indonesia karena multi etnis dan multi agama. Sejumlah konflik etnis dan agama telah terjadi terus menerus selama sejarah negara ini. Nigeria patut dicontoh karena dengan mengajarkan filsafat pada anak, maka ruang toleransi menjadi terbuka dan cenderung meredam konflik SARA.

Jika Indonesia masih belum berangkat dari pengajaran filsafat di Perguruan Tinggi yang masih minim, maka sebaiknya Pemerintah memperluas program pendidikan. Dengan cara ini, kemajuan di bidang pendidikan nasional akan terbantu.

MATA PELAJARAN FILSAFAT UNTUK ANAK

Dengan adanya kurikulum yang penuh dengan mata pelajaran sekarang, memang dapat dipertanyakan mengapa harus pelajaran filsafat diwacanakan. Para guru dapat berargumen kalau keberadaan filsafat menambah sibuk dan bingungnya anak. Sifatnya yang kritis bisa jadi justru berimbas negatif pada mata pelajaran lain, seperti meragukan materi pelajaran lainnya. Di sisi lain, para guru tidak terbiasa dengan filsafat apalagi mengajarkannya.

Sejumlah keberatan di atas memang beralasan. Walau begitu, seperti telah ditunjukkan dalam berbagai hasil studi, telah terbukti ilmiah bahwa pendidikan filsafat berpengaruh positif. Efektivitas pengajaran filsafat pada anak di negara lain juga telah terbukti lewat berbagai studi. Laporan Ofsted tahun 2001 menunjukkan bagaimana siwa belajar mendengarkan, mempertimbangkan dan merespon secara dewasa terhadap gagasan orang lain. Kesimpulan penelitian ini adalah pendidikan filsafat jelas berpengaruh positif bagi kinerja siswa untuk memberinya kepercayaan diri untuk berbicara dan membahas gagasannya.

Menurut Michael Hand, tinjauan sistematik pada tahun 2004 menyimpulkan kalau anak dapat memperoleh manfaat terukur baik akademis maupun sosial dari program pendidikan filsafat.
Tahun 2007, survey di Skotlandia pada 105 anak berusia 10 tahun yang mengikuti pelajaran filsafat menunjukkan peningkatan kemampuan verbal, numerik dan spatial setelah belajar selama 16 bulan, dibandingkan anak yang tidak diajarkan filsafat.

Rekaman sejarah juga menunjukkan kalau kemampuan berpikir yang diasah oleh filsafat membantu mencapai kesuksesan dalam hidup, seperti pada kasus Bill Clinton, Woody Allen, Paus Yohanes Paulus II dan Gene Siskel (Zambrello, 2006).

TEKNIK-TEKNIK MENGAJARKAN FILSAFAT PADA ANAK

Teknik pengajaran filsafat biasanya diawali dengan membaca. Buku yang digunakan sebagai bacaan untuk anak dalam pelajaran filsafat bukanlah buku yang langsung membahas filsafat, namun kurang lebih sama dengan buku dongeng anak-anak. Peran filsafat disini muncul ketika diskusi dikembangkan oleh guru. Ilustrasi dapat ditunjukkan dalam kasus Christina Runquist (Goodnought, 2010):

Ketika pelajaran filsafat, para siswa membaca dongeng “Giving Tree” tentang sebuah pohon yang menyerahkan naungan, buah, cabang dan akhirnya pokoknya kepada seorang anak yang menjadi temannya tapi sang anak tidak pernah memberi apapun pada sang pohon. Setelah membaca buku, Runquist bertanya pada siswa “Bagaimana pendapat kamu? Apakah menurutmu sang anak laki-laki itu egois? Mengapa? Bagaimana dengan pohonnya? Apakah pohonnya juga egois? Mengapa pohon tidak senang ketika memberi pokoknya kepada sang anak?” dst.

Kisah-kisah untuk bahan bacaan filsafat memang diseleksi secara khusus agar lebih sesuai dengan materi yang ingin diajarkan dalam pelajaran filsafat untuk anak. Menurut Wartenberg (2009), pelajaran Filsafat pada anak sekurangnya harus mengajarkan : etika, filsafat sosial politik, metafisika, filsafat pikiran, filsafat lingkungan, epistemologi, filsafat bahasa dan estetika. Cabang-cabang filsafat ini masing-masing memiliki buku standar yang dapat digunakan sesuai rekomendasi Wartenberg. The Giving Tree merupakan kisah yang sesuai untuk filsafat lingkungan. Dalam bukunya, Big Ideas for Little Kids, masing-masing cabang filsafat memiliki rekomendasi kisah untuk diceritakan. Dalam dongeng Indonesia pun hal yang sama dapat dilakukan. Kisah Sangkuriang misalnya dapat digunakan untuk mengajarkan etika.

Alternatif selain membaca tentu ada karena tidak semua siswa senang membaca. Alternatif metode ini tergantung pada kreativitas dan pertimbangan mendalam sang guru. Sebagai contoh, Shapiro (2000) mengajukan tiga gagasan interaktif: (1) Permainan tipe Dilema Tawanan untuk mengajarkan nilai kerjasama, (2) Permainan model karakter untuk mengajarkan makna keadilan, dan (3) Latihan eksplorasi skenario menggunakan berbagai teori moral untuk mengajarkan penerapan prinsip moral.

Hal penting yang harus diingat saat mengajar filsafat adalah mendukung siswa membangun sendiri gagasannya. Tunjukkan bagaimana ucapan mereka membuat anda berpikir dan dukunglah siswa untuk berdiskusi satu sama lain, bukan kepada anda. Sementara itu, hal yang tidak boleh dilakukan guru filsafat adalah memaksakan pandangannya sendiri, menunjukkan ketidaknyamanan dengan suasana senyap (berpikir memerlukan waktu), memberi jawaban pasti pada pertanyaan filsafati, mengizinkan pembahasan panjang pada isu yang tidak penting, memonopoli diskusi, memecahkan perdebatan di antara siswa, dan menunjukkan kepada siswa kalau kita sangat puas terhadap satu jawaban tertentu.

Dr. Thomas Jackson menyarankan istilah WRITEC untuk mengarahkan siswa berpikir filsafat di kelas. 
Istilah WRITEC merupakan singkatan dari What do you mean? Reasons, Assumptions, Inferences, Truth, Examples (Evidence), Counter-examples (Perjelas maksudnya, alasannya, asumsinya, logikanya, kebenarannya, buktinya dan sanggahannya).

Wartenberg menyarankan sejumlah kegiatan follow up setelah pengajaran filsafat inti yang diberikan dalam bukunya. Dalam contoh The Giving Tree, kegiatan follow up yang dapat diberikan adalah meminta siswa menggambar dua hal yang terlihat berbeda namun sebenarnya sama. Hal ini menunjukkan kalau pohon dan anak terlihat berbeda, tapi setelah dikaji mendalam lewat diskusi, sifat mereka sesungguhnya sama.

KESIMPULAN

Filsafat bukan hanya untuk orang tua, ia berlaku pada semua manusia. Anak sejak usia 3 tahun telah memiliki kapasitas yang sederhana dalam proses berpikirnya, sehingga memungkinkan pengajaran filsafat secara dasar. Dengan mengajarkan filsafat pada anak kecil, akan diperoleh generasi yang lebih bijak dan toleran dalam menghadapi keanekaragaman budaya dalam masyarakat. Pada gilirannya, hal ini dapat menciptakan keharmonisan di masyarakat seperti ditunjukkan masyarakat kita di desa-desa yang penuh kearifan lokal. Pendidikan filsafat pada anak TK dan SD telah terbukti efektif di banyak negara, tidak ada salahnya bila Indonesia juga ikut serta. Telah pula ditunjukkan sejumlah contoh pengajaran yang diharapkan dapat menggugah para praktisi pendidikan untuk lebih giat dalam mengembangkan filsafat di sekolah.


*) Timur Langit bersembunyi di punggung nama Widia Febriana, seorang mahasiswi aktif Aqidah Filsafat UIN Bandung angkatan 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar